Enam Indikator Menumbuhkan Rasa Ikhlas






Ikhlas merupakan salah satu sikap rela dan tulus dalam melakukan sebuah amalan atau ketika menerima sebuah musibah, yang dilakukan semata-mata mencari keridaan Allah SWT. Meski terlihat sederhana, namun tidak semua manusia bisa menerapkan perasaan ikhlas dalam dirinya. Ikhlas juga menjadi indikator diterima atau tidaknya suatu amalan.
Allah tidak menerima amalan seseorang hamba, melainkan jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba'atur-rasul (mengikuti sunah Rasulullah SAW). Bila syarat yang pertama terpenuhi (ikhlas), maka tercapailah kesahihan batin. Dan, bila syarat yang kedua terpenuhi, maka tercapailah kesahihan lahir. Bukankah hidup ini singkat, lantas apa yang dicari kecuali bekal untuk menuju akhirat yang tidak memiliki akhir.
Lantas bagaiamana cara menumbuhkan perasaan ikhlas dalam melakukan sesuatu. Berikut ulasannya enam cara menumbuhkan perasaan ikhlas :
1. Selalu Menghadirkan Kebesaran Allah Ta’ala
Munculkanlah perasaan bahwa Allah adalah dzat Maha Besar yang ada di semesta. Sehingga kita akan terhindar dari perasaan sombong dalam melakukan sesuatu, pasalanya ada Dzat yang lebih besar dibanding semua yang kita miliki di dunia ini. Demikian halnya saat menerima suatu musibah. Allah tidak akan memberikan musibah kecuali sebagai bentuk kasih sayangnya kepada kita agar kita naik derajat.

2. Berdoa Kepada Allah Agar Diberi Keikhalasan
Rasa merupakan bentuk kasih sayang dan karunia Allah yang disematkan dalam hati manusia. Jika Dia berkehendak maka Ia akan memberikan ‘rasa’ yang kita minta. Sebaliknya jika Dia menghendaki, mungkin Dia akan menjauhkan dari ‘rasa’ untuk berbuat baik. Maka dari itu, sebaiknya berdoa agar diberi perasaan ikhlas saat melakukan suatu amalan atau saat menerima musibah. Dan sungguh benar apa yang dikatakan Ibnul Qoyyim rahimahullah, bahwa kehinaan adalah ketika Allah meninggalkan seorang hamba dengan dirinya sendiri.

3. Mengingat Pahala Keikhlasan
selalu mengevaluasi diri dan bersungguh sungguh. Baik sebelum, ketika, dan setelah beramal. Sebelum memulai, berhentilah sejenak, tanyakan kepada jiwa kita, apa yang kita ingingkan dengan amalan ini? Jika yang diinginkannya adalah ridha Allah, atau pahala dari Allah ta’ala, maka hendaklah seseorang meneruskan amalannya. Namun sebaliknya, jika ternyata yang diinginkan hal lain selain Allah ta’ala, maka hendaknya seseorang tidak melanjutkan amalannya sampai meluruskan niatnya.

4. Memperbanyak Ketaatan
Taat merupakan apa yang sudah diperintahkan oleh Allah SWT. Dengan memperbanyak melakukan ketaatan, hati kita terbiasa dekat dengan Allah. Sehingga saat melakukan sesuatu yang teringat hanyalah Allah SWT.

5. Tidak Takjub dengan Diri Sendiri
Takjub dengan diri sendiri, membuat kita menyekutukan Allah dengan diri sendiri. Seakan akan dia telah berjasa kepada Allah dengan amalannya. Padahal, hakekatnya justru sebaliknya. Seorang bisa beramal merupakan taufik dari Allah ta’ala. Ujub kepada diri sendiri sebagaimana halnya syirik dapat menghapus amalan, sebagaimana yang disampaikan Imam Nawawi Rahimahullah.

6. Bergaul dengan Orang-Orang Ikhlas
Ikhlas memang rahasia antara manusia dan Rabb-Nya. Namun demikian, manusia bisa merasakan rekan atau saudaranya melakukan sesuatu dengan ikhlas atau tidak. Bergaul lah dengan mereka yang anda rasa memiliki ilmu ikhlas ini. Dengan harapan bisa berqudwah dan mengikuti mereka dalam keikhlasan.

Ikhlas adalah ilmu yang begitu mahal, mendapatkannya pun kita harus berperang dengan hawa nafsu dalam diri. Maka dari itu, mulailah untuk belajar menerapkan perasaan ini sedikit demi sedikit hingga akhirnya kita terbiasa.